Subjek Pendidikan

  

Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Subjek Pendidikan

I. Pendahuluan

Pendidikan (Tarbiyah) merupakan inti dari misi penciptaan manusia. Dalam kajian pendidikan Islam, subjek pendidikan—yaitu pihak-pihak yang bertanggung jawab dan berperan aktif dalam proses edukasi—memiliki hierarki dan peran yang jelas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an. Pemahaman tentang subjek pendidikan ini penting untuk memastikan proses pendidikan berjalan sesuai dengan nilai-nilai tauhid dan tujuan kekhalifahan. Makalah ini akan mengkaji tafsir ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kedudukan dan peran subjek pendidikan, mulai dari Sumber Mutlak hingga kepada tingkatan manusia.

Menurut para pakar pendidikan, subjek pendidikan adalah individu atau kelompok yang berperan sebagai pendidik dan pembimbing, yaitu orang-orang yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan, seperti guru, orang tua, dan masyarakat. Dalam peran ini, mereka bertugas mengembangkan potensi peserta didik secara jasmani dan rohani, mendorong perkembangan pribadi, serta membimbing peserta didik agar mencapai kedewasaan dan kemandirian. 

Pendidik sebagai subjek:  Mereka adalah pihak yang memberikan pendidikan. Contohnya termasuk orang tua (pendidik utama di rumah), guru (pendidik profesional di sekolah), dan lingkungan masyarakat yang juga memiliki peran mendidik. 


II. Subjek Pendidikan Mutlak: Allah SWT

Al-Qur'an secara eksplisit menempatkan Allah SWT sebagai Pendidik (Al-Mu'allim) yang pertama dan mutlak. Pengajaran yang bersumber dari Allah ini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan di dunia.

A. Allah sebagai Sumber Ilmu dan Pengajaran Mutlak (Q.S. Ar-Rahman [55]: 1-4)

Ayat-ayat awal Surah Ar-Rahman meletakkan fondasi hierarki pengajaran:

$$\text{ٱلرَّحْمَٰنُ (1)} \text{عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ (2)} \text{خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ (3)} \text{عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ (4)}$$

"Tuhan Yang Maha Pengasih (1), Yang telah mengajarkan Al-Qur'an (2), Dia menciptakan manusia (3), Mengajarnya pandai berbicara (4)."

Tafsir dan Peran:

Ayat ini menunjukkan bahwa pengajaran Al-Qur'an mendahului penciptaan manusia dalam urutan penyebutan, menyiratkan bahwa ilmu adalah substansi yang mendasari eksistensi manusia. Frasa 'allamahu al-bayan (mengajarnya pandai berbicara/menjelaskan) ditafsirkan oleh ulama sebagai kemampuan kognitif, linguistik, dan penalaran yang memungkinkan manusia belajar dan mengajar.

Kutipan Sarjana Islam:

Ibnu Abbas (sebagaimana dikutip oleh mufassir seperti Ibnu Katsir) menafsirkan al-Insan dalam ayat 3 merujuk kepada Nabi Adam AS, dan al-Bayan merujuk pada pengajaran nama-nama segala sesuatu (ta'lim al-asma')—sebagaimana pula dalam Q.S. Al-Baqarah: 31—yang menjadi prasyarat bagi fungsi kekhalifahan.

"Yang dimaksud dengan 'al-Insan' adalah Adam, dan 'al-Bayan' adalah Allah mengajarkannya nama-nama segala sesuatu, atau mengajarkannya seluruh bahasa." (Ibnu Abbas, riwayat yang dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir).

Subjek pendidikan yang paling tinggi adalah Allah SWT, yang memberikan ilmu dan potensi belajar kepada manusia.


III. Subjek Pendidikan Manusia: Nabi dan Rasul (Pendidik Teladan)

Para Nabi dan Rasul, khususnya Nabi Muhammad SAW, adalah subjek pendidikan pada level eksekutif, bertugas menyampaikan, mencontohkan, dan mengaplikasikan ajaran Allah.

A. Peran Rasulullah SAW: Tazkiyah dan Ta'lim (Q.S. Al-Baqarah [2]: 151)

Ayat ini menjelaskan tugas kenabian sebagai pendidik ulung, yang memiliki empat dimensi utama:

$$\text{كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ}$$

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui."

Tafsir dan Peran:

Ayat ini merumuskan profil ideal seorang pendidik:

1. Yatlū (Membacakan Ayat): Menyampaikan materi autentik (wahyu).

2. Yuzakkīkum (Menyucikan Jiwa/Akhlak): Melakukan pendidikan spiritual dan moral (Tarbiyah)—inilah yang membedakan pendidik kenabian.

3. Yu’allimukum al-Kitāb wa al-Hikmah (Mengajarkan Al-Kitab dan Hikmah): Melakukan pengajaran intelektual (Ta'lim) terhadap syariat dan pemahaman mendalam.

Kutipan Sarjana Islam:

Muhammad Abduh (w. 1323 H), seorang pembaru Islam, menafsirkan al-Hikmah dalam konteks ini sebagai pemahaman rahasia dan tujuan syariat, serta pengetahuan tentang hukum-hukum.

"Yang dimaksud dengan Hikmah adalah rahasia persoalan-persoalan agama, pengetahuan hukum, penjelasan tentang maksud dan tujuan syariat, dan semua ilmu yang bermanfaat lainnya. Ini menunjukkan bahwa tugas guru mencakup aspek spiritual, intelektual, dan praktis." (Muhammad Abduh, dalam Tafsir Al-Manar)

Rasulullah SAW dan para nabi (Uswatun Hasanah) adalah model subjek pendidikan yang harus dicontoh oleh setiap guru Muslim.

________________________________________

IV. Subjek Pendidikan Primer: Orang Tua dan Keluarga

Al-Qur'an menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan berada di tangan orang tua sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama (Al-Madrasah Al-Ūla).

A. Kewajiban Menjaga Diri dan Keluarga (Q.S. At-Tahrim [66]: 6)

Ayat ini memberikan perintah langsung kepada individu beriman untuk menjadi pendidik bagi diri sendiri dan keluarganya:

$$\text{يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا}$$

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..."

Tafsir dan Peran:

Perintah qū anfusakum (peliharalah dirimu) mengisyaratkan bahwa pendidikan diri (self-education) harus didahulukan. Barulah kemudian wa ahlīkum (dan keluargamu) menunjuk kepada tanggung jawab orang tua sebagai subjek pendidikan primer. Tindakan "memelihara" dari neraka ini diartikan oleh mufassir sebagai kewajiban memberikan pendidikan agama yang kuat.

Kutipan Sarjana Islam:

Imam Al-Qurtubi (w. 671 H) dan Ibnu Katsir (w. 774 H), berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, menjelaskan bahwa tindakan "memelihara" itu dilakukan dengan:

"Mendidik mereka dan mengajarkan adab kepada mereka. Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan larang mereka dari berbuat maksiat. Seorang ayah dan ibu harus menjadi pendidik pertama di rumah." (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, menafsirkan Q.S. At-Tahrim: 6)

Dengan demikian, keluarga adalah subjek sentral pendidikan moral dan spiritual.

B. Teladan Pendidik dalam Keluarga (Q.S. Luqman [31]: 13-19)

Kisah Luqman menjadi ilustrasi praktis mengenai bagaimana subjek pendidikan (orang tua) menjalankan perannya, mencakup penanaman tauhid, moral sosial, dan sikap hidup. Luqman sebagai ayah menggunakan metode:

1. Nasihat Tauhid: Yā bunayya lā tushrik billāh (Jangan mempersekutukan Allah).

2. Nasihat Ibadah: Perintah mendirikan salat.

3. Nasihat Akhlak: Perintah amar ma'ruf nahi munkar dan larangan bersikap sombong (lā tusa''ir khaddaka lin-nāsi).

Kisah ini memproyeksikan orang tua sebagai subjek pendidikan yang bijaksana (al-hakīm).

________________________________________

V. Subjek Pendidikan Tambahan: Guru dan Ulama (Ahl adz-Dzikr)

Setelah peran Allah, Rasul, dan keluarga, subjek pendidikan meluas ke guru, ulama, dan lingkungan masyarakat.

A. Peran Guru dan Ulama (Ahl adz-Dzikr) (Q.S. An-Nahl [16]: 43)

Ayat ini menetapkan bahwa orang-orang yang berilmu (Ahl adz-Dzikr) adalah rujukan bagi mereka yang tidak tahu:

$$\text{فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}$$

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (Ahl adz-Dzikr) jika kamu tidak mengetahui."

Tafsir dan Peran:

Frasa Ahl adz-Dzikr ditafsirkan oleh para ulama sebagai orang-orang yang memiliki ilmu dan ingatan (dzikir) tentang ajaran agama, yaitu para ulama, guru, dan pakar. Mereka adalah subjek pendidikan formal yang bertanggung jawab menyebarkan ilmu dan memberikan fatwa.

Kutipan Sarjana Islam:

M. Quraish Shihab (seorang mufassir kontemporer) menjelaskan bahwa peran Ahl adz-Dzikr meluas pada pakar di bidang apa pun:

"Walaupun asbabun nuzulnya berkaitan dengan ahli kitab, perintah bertanya kepada Ahl adz-Dzikr berlaku umum, mencakup setiap orang yang berpengetahuan, pakar, atau profesional dalam bidang tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tidak tahu." (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah)

Ini menempatkan guru/pendidik formal sebagai pewaris tugas kenabian dalam pengajaran (ta’lim) ilmu pengetahuan.

B. Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pendidik dengan Ilmu Khusus (Q.S. Al-Kahfi [18]: 66)

Kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidhir mencontohkan karakteristik seorang guru (subjek pendidikan) yang ideal:

$$\text{قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا}$$

"Musa berkata kepadanya (Khidhir), 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'"

Implikasi Pendidikan: Khidhir merepresentasikan subjek pendidikan yang memiliki kematangan spiritual, intelektual yang cerdas, dan keluasan pandangan (ilmu ladunni). Seorang pendidik harus memiliki kompetensi yang mendalam (rusydā) sebelum mengambil tanggung jawab mendidik orang lain.

________________________________________

VI. Kesimpulan

Subjek pendidikan dalam Al-Qur'an diatur dalam hierarki yang terstruktur untuk memastikan keberhasilan pendidikan spiritual dan peradaban.

Subjek Pendidikan Ayat Kunci Peran Utama

Allah SWT Q.S. Ar-Rahman [55]: 1-4 Sumber Ilmu Mutlak (Al-Mu'allim)

Nabi & Rasul Q.S. Al-Baqarah [2]: 151 Teladan, Penyampai Wahyu, Penyucian Jiwa (Muzakki, Mu'allim)

Orang Tua Q.S. At-Tahrim [66]: 6 Pendidik Primer, Penjaga Iman Keluarga (Qā'id)

Guru/Ulama Q.S. An-Nahl [16]: 43 Pakar Ilmu (Ahl adz-Dzikr), Pewaris Tugas Kenabian

Ayat-ayat ini menyimpulkan bahwa setiap orang yang beriman memiliki peran sebagai subjek pendidikan—mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat—dengan menjadikan Allah sebagai pedoman tertinggi dan Rasulullah sebagai teladan terbaik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.