Hakekat dan Tujuan Pendidikan

  

Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Hakikat dan Tujuan Pendidikan

I. Pendahuluan

Pendidikan (Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib) dalam Islam merupakan proses integral dari penciptaan manusia, bertujuan untuk mengoptimalkan potensi ilahiahnya (fitrah) agar mampu menjalankan fungsi utama sebagai hamba (’Abdullah) dan wakil Allah (Khalifatullah) di bumi. Al-Qur'an sebagai sumber utama petunjuk hidup (Hudan li al-Nas) memuat pondasi filosofis dan tujuan yang jelas mengenai pendidikan. Makalah ini akan mengkaji hakikat pendidikan menurut Al-Qur'an melalui studi tafsir ayat-ayat kunci, serta merumuskan tujuan akhir pendidikan Islam berdasarkan pandangan sarjana dan mufassir.


II. Hakikat Pendidikan: Proses Pengajaran Ilahi dan Pembeda Manusia

Hakikat pendidikan dalam Al-Qur'an berakar pada relasi antara Sang Pencipta (Allah SWT) sebagai pendidik pertama dan manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan. Dua ayat utama yang menjadi fondasi hakikat ini adalah Q.S. Al-’Alaq [96]: 1-5 dan Q.S. Al-Baqarah [2]: 31.

A. Pendidikan sebagai Awal Penciptaan (Q.S. Al-’Alaq [96]: 1-5)

Wahyu pertama, Q.S. Al-’Alaq ayat 1-5, meletakkan membaca (Iqra’) dan menulis (Qalam) sebagai hakikat fundamental pendidikan.

$$\text{ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (1)} \text{...} \text{ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ (4)} \text{عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)}$$

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, ... Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Tafsir dan Hakikat:

Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan adalah proses pengajaran langsung dari Allah, yang mengangkat manusia dari kondisi 'alaq (segumpal darah, simbol kelemahan) menuju pengetahuan. Hakikat pendidikan di sini adalah upaya sadar (iqra') untuk memperoleh ilmu dengan bersandar pada kuasa Allah, menggunakan pena (qalam) sebagai sarana dokumentasi dan pewarisan ilmu.

Kutipan Sarjana Islam:

Ibnu Katsir (w. 774 H), dalam tafsirnya tentang ayat ini, menjelaskan hakikat kemurahan Allah dalam pendidikan:

"Di dalam ayat-ayat tersebut juga termuat peringatan mengenai permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan bahwasanya di antara kemurahan Allah Ta'ala adalah Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya... 1Ini adalah pengajaran awal dan penanaman ilmu sebagai landasan untuk seluruh kehidupan manusia." (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-’Azhim)

Hakikatnya, pendidikan adalah proses transformasi ilahiah yang memungkinkan manusia mencapai potensi intelektualnya.

B. Pendidikan sebagai Keunggulan Manusia (Q.S. Al-Baqarah [2]: 31)

Ayat penciptaan Adam AS sebagai khalifah, Q.S. Al-Baqarah [2]: 31, menjelaskan bahwa ilmu (Ta’lim al-Asma’) adalah pembeda yang mengangkat derajat manusia di atas makhluk lain (malaikat).

$$\text{وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ}$$

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, lalu Dia berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu yang benar!'”

Tafsir dan Hakikat:

Hakikat pendidikan menurut ayat ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan universal (al-Asma’ kullaha). Ilmu ini mencakup pengetahuan tentang segala sesuatu yang diperlukan untuk menjalankan fungsi kekhalifahan, baik ilmu syariat (agama) maupun ilmu kauniyah (alam semesta). Pendidikan adalah prasyarat bagi amanah kepemimpinan di bumi.

Kutipan Sarjana Islam:

Sarjana kontemporer, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, mengaitkan ayat ini dengan hakikat pendidikan holistik:

"Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang mencakup akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Ini semua berakar pada pengajaran 'asma' (nama-nama) kepada Adam, yang merupakan isyarat kepada seluruh ilmu pengetahuan yang diperlukan manusia untuk membangun peradaban." (Al-Qaradhawi, Madkhal ila Ma’rifah al-Islam)


III. Tujuan Pendidikan: Pembentukan Hamba dan Khalifah (Insan Kamil)

Tujuan pendidikan dalam Al-Qur'an tidak parsial, melainkan holistik, menyasar pembentukan Insan Kamil (manusia sempurna) yang mampu menyeimbangkan dimensi ibadah dan dimensi sosial-peradaban.

A. Tujuan Utama: Ibadah dan Ketakwaan (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56 dan Q.S. Ali Imran [3]: 102)

Tujuan akhir penciptaan manusia adalah ibadah, dan pendidikan harus mengarah pada tujuan tersebut.

$$\text{وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)}$$

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Tafsir dan Tujuan:

Imam Al-Maraghi (w. 1371 H) menafsirkan liya’budūn (agar mereka beribadah) dengan makna yang lebih mendalam, yaitu mengenal Allah:

"Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa Aku tidak menjadikan mereka itu, kecuali agar mereka mengenal-Ku, karena jika mereka itu tidak diciptakan maka mereka tidak akan mengenal keberadaan-Ku dan tidak pula mentauhidkan-Ku." (Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi)

Tujuan pendidikan, oleh karena itu, adalah menuntun manusia kepada pengenalan (makrifah) dan pengesaan (tauhid) kepada Allah, yang puncaknya adalah ketakwaan (Taqwa):

$$\text{يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ}$$

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Q.S. Ali Imran [3]: 102)

Tujuan pendidikan adalah menghasilkan pribadi bertakwa yang menjadikan ibadah dan ketaatan sebagai orientasi hidup.

B. Tujuan Sekunder: Kekhalifahan dan Pembangunan Peradaban (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30 dan Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11)

Tujuan pendidikan juga mencakup dimensi sosial, yaitu mempersiapkan manusia menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi.

$$\text{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً}$$

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah.'” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30)

Menjadi khalifah memerlukan keunggulan ilmu dan akhlak, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Mujadilah: 11:

$$\text{يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ}$$

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Tafsir dan Tujuan:

Tujuan pendidikan di sini adalah mengangkat derajat manusia melalui ilmu dan iman agar mampu melaksanakan pembangunan dan mencegah kerusakan di bumi. Ilmu yang diperoleh harus diintegrasikan dengan iman untuk mewujudkan tata kelola bumi yang adil dan beradab.

Kutipan Sarjana Islam:

Muhammad Quthb (w. 2014), seorang pemikir pendidikan Islam, merangkum tujuan ini secara komprehensif:

"Tujuan pendidikan Islam adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah." (Quthb, dalam karyanya tentang pendidikan Islam)


IV. Integrasi dan Kesimpulan

Tafsir ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan bahwa hakikat pendidikan adalah proses pengajaran ilahiah yang membentuk potensi akal dan spiritual manusia (Ta’lim al-Asma’ dan Iqra’), sedangkan tujuan pendidikan adalah menghasilkan individu yang bertaqwa (’Abdullah) dan beradab (Khalifatullah).

Tiga poin utama yang menyatukan hakikat dan tujuan pendidikan dalam Islam adalah:

1. Berorientasi Tauhid: Semua proses belajar harus "dengan (menyebut) nama Tuhanmu," menjadikan ilmu duniawi sebagai jalan menuju pengenalan Ilahi.

2. Keseimbangan Holistik: Pendidikan harus mengembangkan seluruh potensi manusia: jasmani, akal, dan rohani, sebagaimana dicontohkan dalam Q.S. Luqman (tentang pendidikan akhlak, tauhid, dan ibadah).

3. Pengangkatan Derajat: Ilmu adalah satu-satunya faktor yang dijanjikan Allah untuk mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat (darajat), menjadikannya mampu mengemban amanah kekhalifahan dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, pendidikan Islam berupaya mewujudkan Insan Kamil yang berilmu, beriman, dan beramal saleh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.