Pengantar Psikologi Agama

 


Psikologi agama terdiri dari kata psikologi dan agama. 

PENGERTIAN PSIKOLOGI

Kata Psikologi berasal dari Bahasa Yunani yaitu psyche artinya jiwa dan logos artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara bahasa, pengertian psikologi adalah ilmu  yang mempelajari tentang jiwa, termasuk mengenai macam-macam gejalanya, serta prosesnya, maupun latar belakangnya.  -

Sebagai salah satu bidang disiplin ilmu, psikologi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari lebih dalam tentang perilaku, fungsi mental dan pikiran manusia.

PENGERTIAN AGAMA

Sedangkan dalam kajian ilmiah, definisi agama bukanlah sebuah ilmu melaikan aturan yang menyangkut tata cara bertingkah laku dan berkeyakinan atau keIlahi-an. Agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan seluruh manusia agar hidup mereka tidak kacau. 

menurut Al-Quran, agama sering disebut dengan ad-din yang artinya hukum, kerajaan, kekuasaan, tuntunan, pembalasan dan kemenangan. Dan arti ini dapat disimpulkan bahwa agama adalah hukum serta i’tibar yang berisi tuntunan cara penyerahan mutlak dari hamba kepada Tuhan Yang Maha Pencipta melalui susunan pengetahuan dalam pikiran, pelahiran sikap serta gerakan tingkah laku, yang di dalamnya terakup akhlaqul karimah

Sederhananya, psikologi menguraikan tentang seluk beluk ketuhanan sedangkan psikologi menyangkut tentang manusia dan lingkungannya. Agama bersifat transenden, psikologi bersifat profan (non transendental). Maka dari itu, psikologi tidak bisa memasuki wilayah keagamaan karena perilaku manusia yang dibahas berkaitan dengan pengalaman dunia sedangkan agama merupakan ranah Ketuhanan. 

PENGERTIAN PSIKOLOGI AGAMA

Menurut Dzakiah Darajat, Psikologi Agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut cara berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.  

Psikologi agama merupakan ilmu terapan sebagai salah satu cabang dari ilmu psikologi. Dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia yang berkaitan dengan agama yang dianut tentu tentunya psikologi agama telah memberi banyak sumbangan sejalan dengan ruang lingkup kajiannnya. 

Sebagai ilmu pengetahuan empiris, psikologi agama menguraikan tentang tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia

RUANG LINGKUP PRIKOLOGI AGAMA

Prof Dr. Zakiah Daradjat mengkaji ruang lingkup psikologi agama sebagai berikut: 

1. Perubahan Emosional  

  • Pergantian emosi dalam diri manusia ikut serta mencapuri kehidupan, seperti misalnya rasa lega, bahagia, rasa tenang, rasa pasrah sesudah melakukan ibadah menurut kepercayaan orang tersebut. Rasa tersebut sangat bergelut dalam melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama atau meninggalkan ibadah karena termasuk hal yang berdosa. 
  • Perubahan ini juga berpengaruh pada sisi afeksi dan kondisi manusia. Hal tersebut dapat dinilai dari bagaimana pengalaman dan perasaan yang telah dialami individu ketika menjalankan agamanya atau ibadahnya. 
  • Mempelajari serta meneliti pengaruh kepercayaan dunia dan akhirat, bahwa masih ada kehidupan yang kekal setelah kematian. Pengaruh terhadap keyakinan itu termasuk ketaatan yang lebih tinggi untuk mencapai kedamaian dunia yang sesungguhnya di akhirat, serta keyakinan terhadap adanya hari pembalasan terhadap kesalahan yang telah dikerjakan di dunia yang fana. Pembalasan atas apa yang dilakukan di dunia akan mendapatkan tempat di akhirat yaitu surga atau neraka. 

2, Kepercayaan dan Pengaruhnya 

Mempelajari kepercayaan manusia terkait surga dan neraka dan dosa serta pahala yang diyakini membawa mereka pada tempat tersebut. Dengan keyakinan bahwa perbuatan dosa atau pahala akan menuntun manusia untuk berbuat baik dan menjauhi larangannya. Mempelajari dan mengkaji bagaimana pengaruh kepercayaan serta penghayatan manusia terhadap ayatayat suci dalam kitab keagamaannya masing-masing dengan kedamaian hati. 

Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat mencakup dalam kesadaran beragama (religius counsciousness) dan pengalaman agama (religius experience). 

  • Yang dimaksud dengan kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek mental dan aktivitas agama. 
  • Sedangkan pengalaman adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah). Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk aktatau tidaknya keyakinan agama. 

Dengan demikian, psikologi agama menurut Zakiah Daradjat juga adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya. 

Persoalan inti dalam psikologi agama yaitu kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, kata Robert H. Thouless atau kajian terhadap tingkah laku agama dan kesadaran agama. 

APLIKASI PSIKOLOGI AGAMA

Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan mungkin pula dalam lapangan lainnya dalam kehidupan, seperti politik (Snouck Hurgronje), industri (perusahaan minyak Stanvac) 

TINGKATAN PENGALAMAN BERAGAMA DALAM TASAWUF

Menurut ajaran tasawuf, pengalaman beragama merupakan sebuah proses spiritual yang terdiri dari tiga tingkatan utama, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli. Ketiga tahapan ini dijalani seorang sufi secara berurutan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

1. Takhalli (Pengosongan diri)

Ini adalah tahap pertama dan fondasi dari perjalanan spiritual seorang sufi. 

  • Pengertian: Berasal dari kata khalaya yang berarti mengosongkan atau membersihkan. Takhalli adalah proses membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan akhlak buruk.
  • Tujuannya: Membebaskan diri dari berbagai ikatan duniawi, hawa nafsu, dan penyakit hati, seperti riya, tamak, iri, dengki, dan takabur.
  • Analoginya: Seperti menyiapkan wadah kosong yang bersih dari kotoran sebelum bisa diisi dengan air suci. 

2. Tahalli (Pengisian dan penghiasan diri)

Tahap ini dilakukan setelah jiwa berhasil dibersihkan dari sifat-sifat buruk. 

  • Pengertian: Secara harfiah berarti menghiasi diri. Tahalli adalah proses mengisi dan menghias jiwa dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia.
  • Tujuannya: Menanamkan kebaikan dan kebajikan dalam diri, seperti zuhud, qana'ah (merasa cukup), sabar, tawakal, syukur, dan ikhlas.
  • Analoginya: Setelah wadah dibersihkan, kini saatnya wadah tersebut diisi dengan air yang murni dan bersih. Tahap ini merupakan bentuk pengamalan syariat secara ketaatan penuh. 

3. Tajalli (Manifestasi atau penampakan)

Ini adalah puncak dari pengalaman spiritual seorang sufi yang telah melewati dua tahap sebelumnya. 

  • Pengertian: Tajalli berarti penampakan, yaitu ketika kalbu seorang sufi menyaksikan keindahan zat, nama, dan sifat Allah SWT. Tajalli adalah buah dari takhalli dan tahalli.
  • Tujuannya: Mencapai keadaan di mana sifat-sifat Allah termanifestasi dalam perilaku dan akhlak manusia. Pengalaman ini merupakan anugerah dari Allah, bukan hasil usaha semata.
  • Analoginya: Setelah wadah dibersihkan dan diisi dengan air suci, cahaya ilahi masuk dan memancar dari dalam wadah tersebut. Seorang sufi yang mencapai tingkatan ini mengalami penyaksian akan ke-Allah-an di dalam hatinya. 

Hubungan antar tingkatan

Ketiga tahapan ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 

  • Takhalli adalah langkah awal yang krusial untuk membersihkan diri.
  • Tahalli adalah kelanjutan dari takhalli dengan mengisi diri dengan kebaikan.
  • Tajalli adalah hasil akhir dari proses pembersihan dan pengisian diri, di mana seorang hamba merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Tuhannya. 

TINGKASAN KESADARAN BERAGAMA DALAM TASAWUF

Menurut tasawuf, kesadaran beragama bukanlah hal yang statis, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang terus berkembang melalui beberapa tingkatan. Tahapan ini dikenal dengan istilah maqamat (tingkatan yang diusahakan) dan ahwal (keadaan spiritual yang dianugerahkan). 

Berikut adalah tingkatan kesadaran beragama menurut tasawuf, yang dibagi menjadi empat tingkat utama:

1. Syariat

Ini adalah tingkatan kesadaran yang paling dasar, di mana seorang muslim mengikuti ajaran dan hukum Islam secara lahiriah. 

  • Fokus: Menjalankan rukun Islam, seperti salat, puasa, dan zakat, serta mematuhi perintah dan larangan Allah.
  • Tujuan: Membentuk disiplin diri dan menegakkan ketaatan formal.
  • Kesadaran: Beragama berdasarkan kepatuhan pada aturan, belum mencapai penghayatan batin yang mendalam. 

2. Tarikat

Pada tingkatan ini, seorang individu, yang disebut salik, mulai menempuh jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

  • Fokus: Mengamalkan ibadah dan zikir secara lebih intensif, serta melatih diri melalui disiplin spiritual (riyadhah).
  • Tujuan: Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
  • Kesadaran: Kesadaran bergeser dari sekadar kewajiban formal menjadi motivasi yang didorong oleh kerinduan kepada Tuhan. 

3. Hakikat

Ini adalah tingkatan kesadaran akan "kebenaran mistik" atau realitas hakiki dari keberadaan. 

  • Fokus: Memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah manifestasi (tajalli) dari keesaan Allah.
  • Tujuan: Mencapai pemahaman batin yang mendalam tentang makna di balik syariat dan tarikat.
  • Kesadaran: Seorang hamba tidak lagi melihat perbuatan ibadah sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju penyingkapan rahasia ketuhanan. 

4. Makrifat

Ini adalah tingkatan kesadaran spiritual tertinggi, di mana seorang hamba mencapai pengetahuan langsung dan mendalam tentang Allah. 

  • Fokus: Pengalaman batin yang bersifat intuitif dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
  • Tujuan: Mencapai persatuan mistis (unio mystica) atau kedekatan yang paling intim dengan Tuhan.
  • Kesadaran: Tidak ada lagi jarak antara hamba dan Allah. Pengenalan diri sejati berujung pada pengenalan Tuhan, sesuai dengan hadis "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya". 

Interaksi antara maqamat dan ahwal

Selain tingkatan utama di atas, para sufi juga mengenal maqamat dan ahwal, yang saling berhubungan dalam membentuk kesadaran beragama. 

  • Maqamat: Tahapan spiritual yang dicapai melalui usaha sungguh-sungguh (mujahadah) dan latihan rohani secara konsisten. Contohnya adalah tobat, zuhud, sabar, dan tawakal.
  • Ahwal: Keadaan spiritual yang bersifat sementara, tidak diusahakan, dan diberikan sebagai anugerah langsung dari Allah. Contohnya adalah rasa rindu (isyq), ketenangan (thuma'ninah), dan rasa kedekatan dengan Allah. 

Seorang salik akan terus bergerak melewati berbagai maqamat sambil mengalami ahwal yang berbeda, yang pada akhirnya mengantarkannya pada puncak kesadaran beragama, yaitu makrifatullah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.