1. Pengertian Studi Fenomenologi
Studi
Fenomenologi adalah pendekatan filosofis dan metodologis dalam penelitian
kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan, memahami, atau
menginterpretasikan esensi dari pengalaman hidup (lived experience)
individu mengenai suatu fenomena tertentu.
Secara
etimologis, "fenomenologi" berasal dari kata Yunani phainomenon
(sesuatu yang menampakkan diri) dan logos (studi atau ilmu). Pendekatan
ini dipelopori oleh filsuf Jerman, Edmund Husserl, yang berusaha kembali
pada "hal itu sendiri" (Zu den Sachen selbst) dan meletakkan
fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh dengan mempelajari struktur kesadaran.
Fenomenologi berfokus pada apa yang dialami individu secara sadar dan bagaimana
mereka memberi makna pada pengalaman tersebut, terlepas dari interpretasi atau
teori eksternal peneliti.
2.
Konsep Studi Fenomenologi
Ada
empat konsep inti yang menjadi landasan fenomenologi:
|
Konsep |
Penjelasan |
|
Intentionalitas
(Intentionality) |
Kesadaran
selalu diarahkan pada sesuatu. Tidak ada kesadaran tanpa objek, dan tidak ada
objek tanpa kesadaran yang mengarah kepadanya. Semua pengalaman adalah
tentang sesuatu. |
|
Dunia
Kehidupan (Lebenswelt) |
Dunia
pengalaman yang dialami sehari-hari, sebelum direfleksikan secara filosofis.
Ini adalah realitas yang diterima sebagai hal yang pasti oleh individu. |
|
Penangguhan
Keyakinan (Epoché)/Bracketing |
Proses
sistematis di mana peneliti menunda atau "menepikan" prasangka,
asumsi, teori, dan pengetahuan yang sudah ada mengenai fenomena yang
diteliti. |
|
Reduksi
Fenomenologis |
Proses
analitis yang mengikuti Epoché, di mana peneliti bergerak dari
deskripsi pengalaman konkret ke penentuan struktur esensial atau makna inti
dari pengalaman tersebut. |
3.
Landasan Filosofi Studi Fenomenologi
Fenomenologi
didasarkan pada dua aliran filosofis utama:
|
Aliran Filosofi |
Tokoh Utama |
Fokus dan Tujuan |
|
Fenomenologi
Transendental (Deskriptif) |
Edmund Husserl |
Bertujuan untuk
mengidentifikasi esensi (struktur invariabel) dari kesadaran murni.
Menekankan pada Epoché untuk mencapai objektivitas deskriptif. |
|
Fenomenologi
Eksistensial (Hermeneutik) |
Martin Heidegger |
Mengkritik
Husserl karena terlalu fokus pada kesadaran murni. Berfokus pada pemahaman (Verstehen)
keberadaan manusia (Dasein) di dunia (being-in-the-world), di
mana interpretasi adalah hal yang tak terhindarkan. |
4.
Peran Peneliti dalam Studi Fenomenologi
Peneliti
fenomenologi memiliki peran krusial sebagai instrumen utama dalam pengumpulan
dan analisis data.
- Pelaku Epoché
(Penangguhan Keyakinan): Peneliti harus secara sadar mengakui
dan menepikan semua prasangka pribadi, pengetahuan teoretis, dan asumsi
budaya terkait fenomena. Tujuan utamanya bukan untuk mencapai netralitas
total (yang mustahil), melainkan untuk mencapai kesadaran diri yang mendalam
agar prasangka tidak mendistorsi pengalaman partisipan.
- Pewawancara
yang Empatik:
Peneliti harus menciptakan suasana yang memungkinkan partisipan untuk
secara bebas dan rinci mendeskripsikan pengalaman mereka (sharing their
story), seringkali melalui wawancara semi-terstruktur yang mendalam.
- Analis yang
Reduktif/Interprestatif: Peneliti bertanggung jawab untuk
mereduksi deskripsi yang kaya dan detail dari partisipan menjadi unit-unit
makna yang signifikan, dan kemudian menyusunnya menjadi deskripsi tekstual
(apa yang dialami) dan struktural (bagaimana pengalaman itu dialami). Dalam
Hermeneutik, peneliti juga berperan sebagai interpretator yang mencari
makna lebih dalam.
5.
Teori-Teori, Metodologi, Prosedur, Analisis, dan Contoh Penelitian
Tabel
berikut merangkum karakteristik, prosedur, dan teknik analisis dari berbagai
varian Fenomenologi, lengkap dengan contoh penelitian rinci:
|
Varian
Fenomenologi |
Fokus Metodologi
(Poin 6) |
Prosedur
Penelitian (Poin 7) |
Teknik Analisis
(Poin 8) |
Contoh
Penelitian Rinci (Poin 9) |
|
Fenomenologi
Deskriptif (Husserlian) |
Mendeskripsikan esensi
murni pengalaman sadar; bagaimana sesuatu tampak dalam kesadaran. |
1. Tentukan
fenomena. 2. Kumpulkan data (wawancara mendalam). 3. Lakukan Epoché.
4. Reduksi Fenomenologis. 5. Analisis Variasi Imajinatif. |
Reduksi data
menjadi unit-unit makna yang signifikan untuk menghasilkan deskripsi esensial
(struktur invariabel). |
Jurnal: Jurnal
Psikologi Kualitas Hidup. Judul: Esensi Pengalaman Keterasingan
Sosial pada Penyintas Bencana Alam. Penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan struktur inti dari rasa terasing yang dialami korban bencana,
mencari tema universal yang mendasari pengalaman tersebut. |
|
Fenomenologi
Hermeneutik (Heideggerian) |
Menginterpretasikan
makna dari keberadaan (Dasein) di dunia (being-in-the-world);
pemahaman bersifat eksistensial dan kontekstual. |
1. Tentukan
fenomena dan konteks. 2. Kumpulkan data (wawancara, dokumen, observasi). 3. Tidak
ada Epoché murni (karena interpretasi tak terhindarkan). 4.
Menerapkan Lingkaran Hermeneutik. |
Lingkaran
Hermeneutik:
Bergerak bolak-balik antara pemahaman bagian (deskripsi) dan keseluruhan
(makna kontekstual) untuk menemukan interpretasi baru yang lebih kaya. |
Jurnal: Jurnal Studi
Budaya dan Eksistensi. Judul: Memahami Makna Kebijaksanaan
dalam Praktik Perawat Ruang Perawatan Paliatif. Penelitian ini
menginterpretasikan bagaimana perawat mengintegrasikan penderitaan, kematian,
dan harapan ke dalam pekerjaan mereka. |
|
Fenomenologi
Alfred Schutz |
Memahami konstruksi
sosial dari realitas sehari-hari (Lebenswelt) dan pola-pola akal
sehat (common-sense) yang memandu tindakan sosial. |
1. Kumpulkan
deskripsi pengalaman sosial. 2. Identifikasi motif partisipan (motif "karena"
- alasan masa lalu, dan motif "agar" - tujuan masa depan).
3. Konstruksi tipologi tindakan. |
Analisis
Tipologi/Model Tingkat Kedua: Peneliti membangun tipologi atau model
teoretis yang menafsirkan penafsiran yang sudah dibuat oleh partisipan
tentang dunia mereka. |
Jurnal: Jurnal
Sosiologi Fenomenologi. Judul: Konstruksi Realitas "Hidup
Sehat" di Kalangan Pekerja Shift Malam: Sebuah Analisis Schutzian.
Penelitian ini menganalisis bagaimana pekerja menyusun strategi dan motif
mereka dalam menyeimbangkan tuntutan kerja dan kesehatan. |
|
Penangguhan
Keyakinan (Epoché) |
(Merupakan Alat,
Bukan Teori)
Proses disiplin diri untuk menepikan prasangka, teori, dan pandangan dunia
pribadi agar fenomena dapat muncul secara murni. |
Prosedur: Peneliti
mencatat semua asumsi dan prasangka pribadi sebelum penelitian (jurnal bracketing)
dan secara aktif menyisihkannya selama proses pengumpulan dan analisis data. |
Penggunaan aktif
jurnal bracketing untuk memantau pengaruh bias peneliti. |
Contoh: Penerapan pada
tahap awal penelitian deskriptif/Moustakas. |
|
Fenomenologi
Moustakas (Psikologi Fenomenologis) |
Mendeskripsikan
esensi dengan penekanan pada sintesis deskripsi tekstual (apa yang dialami)
dan struktural (bagaimana dialami). |
1. Horizontalisasi:
Perlakukan setiap pernyataan partisipan sebagai bermakna setara. 2.
Kelompokkan menjadi unit-unit makna. 3. Identifikasi esensi. 4. Sintesis. |
Analisis
Sintesis:
Menghasilkan deskripsi komprehensif dari pengalaman gabungan (sintesis
tekstual) dan struktur pengalaman bersama (sintesis struktural), yang
berpuncak pada deskripsi esensial. |
Jurnal: Jurnal
Psikologi Kualitatif Murni. Judul: Pengalaman Fenomenologis
Mahasiswa Disabilitas dalam Mengakses Pendidikan Tinggi di Tengah
Keterbatasan Infrastruktur. Penelitian ini mencari inti dari pengalaman
kompleks yang mencakup emosi, hambatan, dan makna diri. |
|
Fenomenologi
Colaizzi |
Mendeskripsikan
fenomena untuk menghasilkan pernyataan tematik yang divalidasi kembali oleh
partisipan. Berfokus pada kejelasan dan validitas temuan. |
Prosedur 7
Langkah:
1. Baca semua transkrip. 2. Ekstrak pernyataan signifikan. 3. Formulasikan
makna dari pernyataan signifikan. 4. Kelompokkan makna menjadi tema. 5. Tulis
deskripsi tekstual dan struktural. 6. Definisikan esensi. 7. Validasi
hasil dengan partisipan. |
Analisis
Verifikasi:
Serangkaian langkah sistematis untuk mereduksi dan menafsirkan data, yang
paling khas adalah langkah validasi hasil (memastikan temuan mencerminkan
pengalaman partisipan). |
Jurnal: Jurnal
Keperawatan dan Praktik Klinis. Judul: Pengalaman Pasien Lansia
dalam Menghadapi Pemasangan Alat Pacu Jantung: Analisis Tujuh Langkah
Colaizzi. Studi ini menghasilkan tema yang kemudian diverifikasi
kebenarannya oleh subjek penelitian. |
Ringkasan
Prosedur Analisis Utama
Analisis
Moustakas (Horizontalisasi dan Sintesis)
- Horizontalisasi: Peneliti
mencatat setiap pernyataan yang relevan dengan pengalaman dan
memperlakukannya setara.
- Klustering
Unit Makna:
Pernyataan yang dihorizontalisasi dikelompokkan ke dalam unit atau tema
yang lebih besar.
- Deskripsi
Tekstual:
Merangkum apa yang dikatakan partisipan.
- Deskripsi
Struktural:
Merangkum bagaimana partisipan mengalami fenomena (faktor pemicu,
latar belakang, kondisi).
- Sintesis
Esensial:
Menggabungkan deskripsi tekstual dan struktural untuk mencapai pernyataan
tunggal tentang esensi fenomena.
Analisis
Colaizzi (Validasi Partisipan)
- Membaca
Berulang:
Untuk mendapatkan rasa keseluruhan (sense of the whole).
- Ekstraksi
Pernyataan Signifikan: Menarik frasa yang secara langsung berkaitan
dengan fenomena.
- Formulasi
Makna:
Menjelaskan makna tersembunyi atau tersirat dari setiap pernyataan
signifikan.
- Kategorisasi
Tema:
Mengelompokkan formulasi makna menjadi tema-tema yang lebih besar.
- Deskripsi
Esensial:
Menyusun semua temuan menjadi satu laporan yang komprehensif.
- Validasi: Mengambil
deskripsi esensial ini kembali kepada partisipan untuk konfirmasi.
Analisis
Hermeneutik (Lingkaran Interpretatif)
- Pra-pemahaman: Peneliti
mengakui pra-pemahaman mereka.
- Pemahaman
Bagian-Keseluruhan: Membaca teks (transkrip) berulang kali, mencari
makna dari bagian-bagian kecil (kata, frasa) dan mengaitkannya dengan
makna keseluruhan teks.
- Pengungkapan
Tema:
Mengembangkan tema-tema yang mengungkapkan makna eksistensial.
- Interpretasi
Lintas Kasus:
Membandingkan interpretasi antara partisipan untuk mencapai pemahaman umum
tentang Dasein (keberadaan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.