وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (١٦)
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud[1092], dan Dia berkata: "Hai manusia, Kami telah di beri pengertian tentang suara burung dan Kami di beri segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (QS 27:16)
[1092] Maksudnya Nabi Sulaiman menggantikan kenabian dan kerajaan Nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuannya dan kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
Sulaiman (سليمان), nasabnya menurut Ibnu Katsir adalah Sulaiman bin Daud AS. Ia diperkirakan hidup antara tahun sekitar 975 – 935 SM. Ia bertugas di wilayah Palestina (dan Israil). Nama atau sebutan untuk kaumnya adalah Bani Israil. Ia wafat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Al Quran menyebut namanya sebanyak 21 kali. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia di angkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis, Palestina.
Nabi Daud kembali ke Baitul Maqdis dan menghabiskan sisa hidupnya selama 40 tahun di istana itu sebelum melepaskan takhta kepada Sulaiman. Kewafatan Nabi Daud memberikan kuasa penuh kepada Nabi Sulaiman untuk memimpin Bani Israel berpandukan kebijaksanaan yang dianugerah Allah. Setelah Sulaiman cukup umur dan ayahnya wafat, Sulaiman di angkat menjadi raja di kerajaan Israil. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain.
Qs Al Anbiya menceritakan kelebihan Nabi Sulaiman adalah diberikan anugerah kemampuan mengambil keputusan dengan adil, sebagaimana kisah berikut:
78. (Ingatlah) Daud dan Sulaiman ketika mereka memberikan keputusan mengenai ladang yang dirusak pada malam hari oleh kambing-kambing milik kaumnya. Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.491)
491) Dalam peristiwa itu, Nabi Daud a.s. memberi putusan bahwa kambing-kambing itu harus diberikan kepada pemilik ladang sebagai ganti kerusakan ladangnya.
79. Lalu, Kami memberi pemahaman kepada Sulaiman (tentang keputusan yang lebih tepat).492) Kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) Kami memberi hikmah dan ilmu. Kami menundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya.
492) Berbeda dari putusan Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s. memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Putusan Nabi Sulaiman a.s. inilah yang lebih tepat.
Sulaiman AS merupakan putra Daud AS yang Allah pilih untuk menjadi nabi Bani Israil. Selama masa kepemimpinannya, negeri Palestina dalam kondisi yang sangat makmur. Sulaiman AS dianugerahkan Allah memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu berbicara dan memahami bahasa hewan sehingga semua makhluk itu mengikuti kehendaknya. (Qs. 27:15-16).
Qs Surat An Naml 15-44 menceritakan kisah Nabi Sulaiman sebagai berikut:
15. Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami daripada kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin.”
16. Sulaiman telah mewarisi Daud545) dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”
545) Nabi Sulaiman a.s. menggantikan kenabian dan kerajaan Nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuan dan kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
17. Untuk Sulaiman dikumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib
18. hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”
19. Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
20. Dia (Sulaiman) memeriksa (pasukan) burung, lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud?546) Ataukah ia termasuk yang tidak hadir?
546) Hudhud adalah sejenis burung pelatuk yang bermahkota (berjambul).
21. Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”
22. Tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’547) membawa suatu berita penting yang meyakinkan (kebenarannya.)
547) Saba’ adalah nama kerajaan pada zaman dahulu, ibukotanya Ma‘rib yang terletak dekat kota Sana‘a, ibukota Yaman sekarang.
23. Sesungguhnya aku mendapati ada seorang perempuan548) yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.
548) Yang dimaksud dengan perempuan dalam ayat ini adalah Ratu Balqis yang memerintah kerajaan Saba’ pada zaman Nabi Sulaiman a.s.
24. Aku (burung Hudhud) mendapati dia dan kaumnya sedang menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan (buruk itu agar terasa indah) bagi mereka sehingga menghalanginya dari jalan (Allah). Mereka tidak mendapat petunjuk.
25. Mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi549) dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan.
549) Di antara perwujudan mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi adalah menurunkan hujan dari langit, menumbuhkan tanam-tanaman, serta mengeluarkan logam dan barang tambang dari bumi.
26. Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ʻArasy yang agung.”
27. Dia (Sulaiman) berkata, “Kami akan memperhatikan apakah engkau benar atau termasuk orang-orang yang berdusta.
28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka. Kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan!”
29. Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang penting.”
30. Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulaiman yang isinya (berbunyi,) “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
31. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri!”
32. Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu urusan sebelum kamu hadir (dalam majelisku).”
33. Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan ketangkasan yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu. Maka, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”
34. Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. Demikianlah yang mereka akan perbuat.
35. Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”
36. Ketika (para utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku (sebagai hadiah)? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
37. Pulanglah kepada mereka (dengan membawa kembali hadiahmu)! Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang tidak mungkin dikalahkan. Kami pasti akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dalam keadaan terhina lagi tunduk.”
38. Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawakanku singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri?”
39. Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.”
40. Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci550) berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
550) Yang dimaksud kitab suci pada ayat ini adalah kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman a.s., yaitu Taurat dan Zabur.
41. Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya, kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenali(-nya) atau tidak mengenali.”
42. Ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Sepertinya ya. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya551) dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
551) Balqis telah mengetahui kenabian Sulaiman a.s. sebelum singgasananya dipindahkan dari negeri Saba’ ke Palestina dalam sekejap mata.
43. Kebiasaannya (Balqis) menyembah selain Allah telah mencegahnya (dari tauhid). Sesungguhnya dia dahulu termasuk kaum yang kafir.
44. Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke istana.” Ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dia menyangkanya kolam air yang besar. Dia menyingkapkan (gaun yang menutupi) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Orang-orang Yahudi menuduh Nabi Sulaiman melakukan perbuatan sihir, padahal tidaklah demikian. Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan Nabi Daud AS, ayahnya. Pembicaraan Nabi Sulaiman dengan burung hud-hud yang sudah lama di nanti kedatangannya, hud-hud menceritakan berita yang disaksikannya di Negeri Saba. Sulaiman berkirim surat kepada Balqis, Ratu Saba yang kaflr. Ratu Balqis pun mengutus dutanya kepada Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah, tapi ditolaknya.
Jin “'Ifirit” dan orang yang berilmu menyanggupkan diri membawa singgasana Ratu Balqis di hadapan Sulaiman, di Palestina. Balqis keheranan dan masuk Islam. Keingkaran kaum Saba terhadap nikmat Allah dan akibatnya pun menimpanya.
Sulaiman mendapat cobaan dari Allah berupa kenikmatan dan sakit. Tidak ada yang dapat menunjukkan kematian Sulaiman kecuAli RAyap yang makan tongkatnya. Bahkan para jin pun tidak tahu kalau sebenarnya Nabi Sulaiman saat itu sudah meninggal. Jin itu tidak tahu tentang perkara yang ghaib.
Kisah wafatnya Nabi Sulaiman dikisahkan ayat berikut,
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)
Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”
“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.
“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.
Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”
“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”
Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”
Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”
Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.
Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.
Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.
Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.
Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),
لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤
“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”
Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Hikmah-hikmah dari mempelajari kisah Nabi Sulaiman:
- Pentingnya Bersyukur: Kisah Nabi Sulaiman AS menekankan pentingnya rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas segala nikmat, sekecil apa pun itu, termasuk kemampuan memahami bahasa hewan seperti semut dan Hud-hud. Doa beliau yang terkenal dalam Surah An-Naml ayat 19
- Kerendahan Hati di Puncak Kekuasaan: Meskipun menjadi raja yang menguasai manusia, jin, dan hewan, Nabi Sulaiman AS tetap rendah hati dan tidak sombong. Beliau mengakui semua kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya semata-mata adalah karunia dan titipan dari Allah.
- Keadilan dan Kebijaksanaan dalam Memimpin: Nabi Sulaiman AS dikenal karena kebijaksanaan dan keadilannya dalam memutuskan perkara dan memimpin kerajaannya. Beliau mau mendengarkan masukan dari rakyat kecil, bahkan dari seekor semut, menunjukkan sikap keterbukaan seorang pemimpin.
- Etos Kerja Tinggi: Nabi Sulaiman AS adalah sosok yang senang bekerja sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, bukan hanya bersantai dengan segala kemewahan yang dimilikinya.
- Membandingkan Kisah dari Sudut Pandang Islam: Perbedaan signifikan antara kisah Nabi Sulaiman AS dalam Al-Qur'an (yang penuh pujian dan keteladanan) dengan narasi dalam Perjanjian Lama/Bibel (yang cenderung memuat cercaan). Hal ini mengajarkan umat Muslim untuk berpegang teguh pada sumber ajaran yang sahih (Al-Qur'an dan Sunnah).
- Keteguhan Aqidah: Kisah dakwah Nabi Sulaiman AS kepada Ratu Balqis mengajarkan tentang pentingnya mendakwahkan tauhid dan meluruskan aqidah, yaitu hanya menyembah Allah SWT semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.